Thanks to visit..(^.^)/..

Kamis, 25 Oktober 2012

Cara AMPUH Merebut Hati Murid



Kereenn!!
Alhamdulillah ya Allah, telah mempertemukan saya dengan seseorang yang keren seperti pak Joko Wahyono. Buku nya keren sekali, buku ini sangat sangat mewakili apa yang saya rasakan selama ini, tapi saya tak berdaya untuk merubahnya, buku ini dengan humble mengajak pembacanya untuk merubah paradigma yang sudah ada tentang bagaimana berada bersama anak anak eh murid murid kita

Menurut saya guru itu mau tidak mau merupakan seorang penentu masa depan murid muridnya, terus dimana tanggungjawab orang tua?.... 

Persepsi ini terbentuk karena masih banyak orang tua yang tidak mampu mengatasi perkembangan anak anak mereka. Ada yang memang sibuk dan tidak menyempatkan,ada yang memang tidak mampu. Tidak mampu karena keadaan yang membuat mereka seperti itu, bagaimana tidak? memenuhi kebutuhan makan setiap hari saja mereka pusing apalagi harus belajar parenting.
By the way persepsi saya ini diluar beberapa fenomena keluarga homeschooling yang mulai banyak tumbuh beberapa tahun belakang ini, dimana orang tua yang menyadari bagaimana peran mereka dalam pendidikan anak, mau untuk kembali dan terus belajar bersama anak anak mereka hingga mencari pola yang tepat untuk belajar bersama putra putri mereka.

Itulah mengapa saya berpikir, guru memiliki peran yang sangat vital bagi perkembangan anak didiknya.

Buku cara AMPUH merebut hati murid dibagi menjadi empat bagian, bagian pertama adalah bagaimana guru menjadi harapan murid muridnya, jadi ingat ungkapan William Arthur Ward-The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. Bagian kedua berisi penjelasan apa itu cara AMPUH (Asertif, Menghargai Murid, Pandai membina hubungan baik, Usaha Optimal, Hindari Kekerasan dan Rasa takut) . Bagian tiga cara AMPUH dalam kisah kisah Inspiratif dan Bagian Terakhir Profil Guru Ampuh yang menjadi Magnet para siswanya (dibagian ini ada sedikit sharing dari saya lho…)

Di bagian satu ada yang bikin saya mak deg, di halaman 25 dituliskan Hasil survey yang dilakukan UNICEF pada tahun 2006, 90% guru di Indonesia menghukum murid muridnya dengan cara menyetrap dan membentak, sedangkan 47% menghukum murid untuk membersihkan WC. Penelitian ini relevan dengan hasil penelitian saya tahun 2008 walau skopenya tidak sebesar penelitian UNICEF, hasilnya sama 90% menghukum secara fisik dan psikis.
Alasan guru menghukum sebagian besar adalah karena murid tidak disiplin, malas belajar, menunda tugas, lamban, bolos, merokok, mengobrol saat pelajaran, tidak patuh aturan. Tapi pernahkah guru bertanya mengapa murid bertindak tidak disiplin?

Jumat, 05 Oktober 2012

Tawuran

Tawuran merupakan tulisan, bahasan, diskusi yang lagi trend belakangan ini..

Sebelumnya saya turut berduka cita secara mendalam bagi keluarga korban, semoga Alawy Y Putra dan Deni Yanuar diterima di sisi Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Allahuma firlahu warhamhu wa afihi wa fuanhu.. Aamiin
Menurut saya kematian mereka tidak sia-sia, kematian mereka merupakan momentum untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan bermasyarakat di Indonesia. Mereka pahlawan, agar selanjutnya tidak akan ada jatuh korban lagi.

Seperti yang sering saya kemukakan, kekerasan di sekolah, di masyarakat, bullying antar siswa, guru dan siswa baik bullying fisik maupun psikis kesemuanya bisa memicu kekerasan yang lebih besar lagi

Saya sependapat dengan Taufik Bahaudin seorang pakar perilaku dalam wawancara dengan MetroTV semalam, bahwa tawuran dapat dicegah jika guru di sekolah tidak melulu mengejar bidang akademik saja, namun juga soft skill, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, hal hal semacam ini seharusnya terintegrasi dalam proses pembelajaran di kelas.

Kemudian tentang anak anak pelaku tawuran, apakah dengan memberi sanksi dengan mengeluarkan mereka dari sekolah sudah cukup, memenjarakan mereka selama 15 tahun sudah cukup? NO, paradigma harus diubah bukan efek jera namun peningkatan kualitas diri mereka menjadi manusia yang bernilai, manusia yang memiliki hati yang sehat jasmani dan rohani seharusnya menjadi program pembinaan utama untuk anak anak itu, karena mereka juga korban.

Sebenarnya bukan hal yang sulit, just touch them, hold them and love them sincerely. Dalam pembelajaran di kelas, hubungan guru dan murid diperbaiki, gak perlu jaim, duduklah sejajar dengan mereka, bergaulah secara wajar, dalami dunia mereka.

Hei, saya jadi ingat film Freedom Writer, film inspiratif bagaimana seorang guru dapat menyatukan perbedaan ras, dan perkelahian antar genk di kelasnya, bagaimana seorang guru dapat membuat anak anak yang kasar, putus asa dan tidak memiliki harapan itu bangkit dan berdamai dengan perbedaan mereka.


Sesungguhnya setiap manusia memiliki sisi baik dalam dirinya, betapapun kejam dan beringasnya seorang manusia, mereka masih memiliki sepercik hati nurani yang dapat diletupkan dan membesar, membuat mereka menjadi manusia manusia yang lebih baik.

Bagaimana Erin Gruwel guru inspiratif ini melakukannya, gampang, dia melakukannya dengan "hati", hati yang tulus yang dimilikinya membuat Erin Gruwel menemukan berbagai metode untuk meletupkan hati nurani setiap siswa gangsternya.


Bagaimana dengan orang tua, kenapa melulu guru saja yang disalahkan?
Mari kita lihat dari perspektif ini. Siswa di kota besar, sekolah elit, dengan latar belakang dan pendidikan orang tua yang tinggi, dan siswa di sekolah pinggiran yang sebagian besar orang tua nya memiliki latar belakang pendidikan yang rendah dan miskin. Keduanya memiliki kelemahan yang sama, yaitu sulitnya komunikasi antara orang tua dan anak anaknya. Dua golongan orang tua kaya dan miskin, pendidikan tinggi dan rendah memiliki problem yang sama, sama-sama sibuk dengan dunia mereka yang pendidikan tinggi dengan dalih meningkatkan kualitas hidup mereka sedang yang miskin memikirkan mencari sesuap nasi saja kesusahan apalagi mengurus anak anak mereka. That's why guru dan sekolah yang saya sorot, karena mereka memperoleh amanah dari dua jenis orang tua itu untuk membantu mereka mendidik anak anak mereka.