Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 22 Juni 2011

[KLIPING] Multiple Intelligence yang bikin pusing di Indonesia…

by Adi D Adinugroho-Horstman on Friday, June 11, 2010 at 12:44pm

Membicarakan teori MI selalu saja banyak kontroversinya. Sebenarnya kontroversi seputar teori dan filosofikal pemikiran dibaliknya merupakan suatu hal yang lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan. Setiap orang berhak mengeluarkan beragam teori baru apapun itu. Di dunia ilmu pengetahuan empiris biasanya setiap ada teori baru yang muncul (dan menarik) maka akan banyak yang meneliti dan membahas teori tersebut terutama pada bidang keilmuan yang terkait erat areanya dengan teori baru tersebut. Penelitian, bahasan dan diskusi-diskusi disertai controversial polemic dalam bentuk tulisan ilmiah, artikel ilmiah maupun debat-debat langsung dalam forum-forum dan konferensi akadamis terhapad teori baru biasanya meliputi :

1. Filosofi pemikiran teori tersebut

2. Metoda dan kerangka berpikir dari teori yang dimaksud

3. Apakah ada latar belakang pendukung dari teori-teori sebelumnya dan peneliitan-penelitian
terdahulu.

4. Apakah Teori tersebut dapat dibuktikan dalam artian : bisa diukur dan dibedakan variable-variable
yang akan di ukur.

5. Bisa di wujudkan dalam penelitian-penelitian empiris untuk pembuktiannya

6. Bisa di cobakan metode-metode aplikasi berdasarkan teori tersebut kedalam kehidupan
masyarakat dan apakah bermanfaat untuk di cobakan.

Ke enam hal diatas hanya sebagian kecil dari area yang biasanya dilihat di dalam penemuan suatu teori baru. Dan sebelum teori tersebut di terapkan langsung dan di aplikasikan ke masyarakat luas, biasanya diperlukan pembuktian-pembuktian yang signifikan yang menunjang kebenaran teori tsb. Bila sudah ada pembuktian-pembuktian melalui riset-riset empiris dengan jumlah yang cukup banyak dan samplenya mewakili populasi yang ditargetkan, barulah metode dengan teori yang dimaksudkan dapat diterapkan secara bertanggung jawab terhadap masyarakat dan dapat di generalisasikan bagi populasi umum.

Apa sih Multiple Intelligense(MI) itu dan bagaimana koq sampai muncul teori tersebut.

Teori MI dicetuskan oleh Dr. Howard Gardner, salah satu professor di fakultas pendidikan Havard University. Dari beragam penelitiannya di area dunia pendidikan Dr. Gardner melihat adanya ketidak lengkapan pada standard tes IQ conventional yang umum digunakan dan pada konsep kecerdasan secara umum. Menurut beliau standard tes IQ yang sudah ratusan tahun teruji validitas dan reliabilitasnya itu serta teori-teori klasik yang menjelaskan konsep dasar kecerdasan manusia itu tidak lengkap dalam menggambarkan kecerdasan manusia. Alasannya kecerdasan manusia adalah suatu permasalahan yang sangat kompleks, sementara standard IQ test hanya dapat menjelaskan sebagian kecil kemampuan berpikir manusia, yaitu kemampuan-kemampuan berpikir yang berdasarkan pada kemampuan verbal dan matematikal saja. Beliau menolak pemahaman klasik seputar konsep kecerdasan bahawa kecerdasan dasar/potensi yang dimiliki setiap manusia sejak lahir adalah berbeda-beda. Dan karena potensi dasarnya berbeda-beda, maka dalam pencapaian kecerdasan aktual (prestasi) pada setiap orang pun berbeda-beda.

Menurut beliau semua manusia terlahir dengan potensi dan kecerdasan yang sama. Sementara faktor lingkunganlah yang dapat meciptakan kecerdasan-kecerdasan yang beragam-ragam. Menurut beliau IQ test yang ada sekarang ini salah dalam mengintepretasikan konsep kecerdasan manusia, Karena kecerdasan manusia itu lebih besar dari gambaran yang diberikan oleh konsep IQ (Intelligence quotient) karena di dalamnya banyak hal/fenomena dan prilau manusia yang tidak bisa dijelaskan dalam konsep IQ tersebut, dank arena konsep IQ begitu sempit maka standard IQ test pun hanya bisa mengukur sebagian kecil kemampuan berpikir manusia. Beliau mencontohkan dalam interviewnya dengan BBC di tahun 2006 bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh seorang artis (pelukis) misalnya bisa saja berbeda dengan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang pilot, karena dua area tersebut menggunakan pola berpikir yang berbeda, beliau berpendapat bila saja kita melihat konsep kecerdasan secara berbeda, maka akan lebih banyak kecerdasan-kecerdasan yang bisa kita lihat begitu kira-kira yang beliau utarakan di dalam interview tersebut. Maka di dalam teorinya berdasarkan penelitian studi kasus yang dilakukannya beliau pun mengusulkan untuk melihat kecerdasan dalam bentuk yang berbeda, menurut teori yang di usulkannya ada 7 area kecerdasan (tadinya hanya 6 lantas berkembang jadi 7) yang bila diartikan secara harafiah sebagai berikut :

1. Kecerdasan linguistic atau kecerdasan berbahasa (linguistic intelligence)

2. Kecerdasan logika dan matematika (Logical, reasoning mathematical intelligence)

3. Spatial intelligence (spatial = kemampuan melihat bentuk/ruang/gambar…saya nggak tahu kata yang paling tepat untuk ini apa jadi biar nggak lost in translation saya sebut saja spatial ya).

4. Bodily –kinesthetic intelligence (kemampuan olah tubuh/olah raga, motor kasar, motor halus)

5. Kecerdasan bermasyarakat/bersosial/berinteraksi dengan manusia lain (Inter personal intelligence).

6. Kecerdasan di dalam diri sendiri (Intrapersonal intelligence/self smart)

7. Naturalist intelligence (nature smart) atau kecerdasan natural

Teori kecerdasan yang diusulkan beliau ini adalah berdasarkan riset dalam bentuk case study 2 individu yang memiliki kondisi khusus (cidera otak) dan Idiot Savant (contoh kasusnya Nadia, yang kemampuan matematika luar biasa, tetapi dalam test IQ masuk ke dalam kategori mental retardasi). (Gardner 1983,1999).

Selasa, 21 Juni 2011

[KLIPING] Debunking the Case for National Standards

Debunking the Case for National Standards
One-Size-Fits-All Mandates and Their Dangers
By Alfie Kohn
Source : http://www.alfiekohn.org/teaching/edweek/national.htm
[This is a slightly expanded version of the article published in
Education Week’s annual “Quality Counts” issue.]


I keep thinking it can’t get much worse, and then it does.  Throughout the 1990s, one state after another adopted prescriptive education standards enforced by frequent standardized testing, often of the high-stakes variety.  A top-down, get-tough movement to impose “accountability”– driven more by political than educational considerations – began to squeeze the life out of classrooms, doing the most damage in the poorest areas.

By the time the century ended, many of us thought we had hit bottom – until the floor gave way and we found ourselves in a basement we didn’t know existed.  I’m referring, of course, to what should have been called the Many Children Left Behind Act, which requires every state to test every student every year, judging students and schools almost exclusively by their scores on those tests, and hurting the schools that need the most help.  Ludicrously unrealistic proficiency targets suggest that the law was actually intended to sabotage rather than improve public education.

Today we survey the wreckage.  Talented teachers have abandoned the profession after having been turned into glorified test-prep technicians.  Low-income teenagers have been forced out of school by do-or-die graduation exams.  Countless inventive learning activities have been eliminated in favor of prefabricated lessons pegged to numbingly specific state standards.
And now we’re informed that what we really need . . . is to standardize this whole operation from coast to coast.
Have we lost our minds?  Because we’re certainly in the process of losing our children’s minds.
To politicians, corporate CEOs, or companies that produce standardized tests, this prescription may seem to make sense.  (Notice that this is exactly the cast of characters leading the initiative for national standards.)  But if you spend your days with real kids in real classrooms, you’re more likely to find yourself wondering how much longer those kids -- and the institution of public education -- can survive this accountability fad.

Rabu, 15 Juni 2011

Kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi Guru?

Sumber : http://surabaya.detik.com/
Permasalahan yang terjadi belakangan ini di SD Gadel 2 Surabaya, sebenarnya juga terjadi di sebagian besar sekolah di seluruh Indonesia, yang menggunakan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan anak didiknya.
Seorang teman yang guru juga terusik sekali dengan keadaan ini, seolah kami tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah ataupun mengungkap segala kecurangan yang dilakukan di sekolah tempat kami mengajar.
Hingga terlepas beliau mengatakan “ingatkan saya, kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi guru?”

Jawaban saya, paling tidak kita masih bisa memprovokasi anak-anak tentang moral, kejujuran, untuk berani bermimpi, berani beropini, dan terlepas dari carut marutnya UN dan sistem pendidikan kita.

Peristiwa 2 tahun yang lalu, ketika saya mengungkap bullying di sekolah antara guru dan murid, hingga terancam dimutasi dan dicopot jadi Guru, memang sempat membuat saya berpikir untuk pindah, merasa tidak pantas jadi guru lagi, pergi dari sekolah itu, bahkan sempat terpikir untuk mendirikan sekolah sendiri yang sesuai dengan idealism pendidikan hakiki yang tentu saja salah satunya tidak pakai UN sebagai standar kelulusan.