Thanks to visit..(^.^)/..

Sabtu, 24 Desember 2011

[KLIPING] Guru Inspiratif

 Contributed by Rhenald Kasali
http://home.messiah.edu/~cd1209/
Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Rabu, 21 Desember 2011

[KLIPING] Menyingkap Agenda Tersembunyi Dibalik Sekolah

by Yudi Arianto on Wednesday, December 21, 2011 at 7:52pm

gnosticmedia.com
Apakah sekolah anak Anda mendorong ia mampu mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan apa yang menurutnya benar ataukah mereka diajari untuk patuh dan didikte apa-apa yang boleh ia pikirkan?

Adalah John Taylor Gatto, seorang penulis, pembicara, dan pendidik terkenal, yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru terbaik di Amerika, menjadi tidak yakin dengan sistem pendidikan yang selama ini sudah kokoh diyakini oleh masyarakat. Dia dengan terbuka mengaku bahwa dia sukses sebagai guru karena mendobrak semua aturan baku.

Gatto kemudian meninggalkan dunia pendidikan tradisional dan mulai meneliti sejarah sistem persekolahan. Dia menemukan bahwa sistem wajib belajar (compulsory school system)  sebenarnya dirancang untuk mengajarkan sifat kekanak-kanakan dengan menciptakan ketergantungan terhadap otoritas di luar dirinya.

Umumnya, kita para orang tua cenderung percaya bahwa sekolah ada untuk membantu anak-anak kita meraih kemampuan intelektual tertingginya. Tetapi Gatto mengungkapkan adanya kepentingan dari industrialis (yang membiayai sekolah-sekolah) untuk “memunculkan suatu bangsa” dimana ada buruh dan konsumen yang akan bertindak sesuai dengan apa yang dimaui oleh industrialis.

Gatto percaya bahwa “genius is as common as dirt”. Sebagai seorang penganjur unschooling, dia berkata bahwa anak-anak akan belajar dalam bentuknya yang terbaik jika mereka dilibatkan secara penuh dalam masyarakat. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika mereka diberi suatu tanggung jawab. Sebagai orang tua dan orang dewasa tugas kita adalah mendukung mereka dengan cara menyingkirkan segala penghalang dan membantu mereka untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul.

Gatto mengatakan bahwa sistem sekolah makin lama semakin tidak relevan dengan tantangan yang ada. Tidak seorangpun percaya bahwa ilmuwan dilatih dalam kelas sains atau politikus dimunculkan lewat kelas ketatanegaraan atau penulis puisi dalam kelas bahasa. Kenyataannya adalah bahwa sekolah-sekolah tidak benar-benar mengajarkan apapun kecuali bagaimana caranya untuk mematuhi peraturan.(###)

source : http://www.facebook.com/notes/yudi-arianto/menyingkap-agenda-tersembunyi-dibalik-sekolah/10150449603774620

e-book John Taylor Gatto tentang Underground History American Education dapat disimak di sini http://www.johntaylorgatto.com/chapters/

[repost] sang pemimpi...:)

by Lea Kesuma on Tuesday, December 29, 2009 at 2:00pm

baqiberbagi.wordpress.com
Anak-anakku eh murid-muridku usia mereka antara 15 – 17 tahun, usia dimana mereka masih bersemangat untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diri mereka, mencari tahu apa yang mereka inginkan, mencari tahu apa yang seharusnya mereka lakukan.

Menyenangkan sekali melihat segala macam perilaku mereka, ada yang dengan bangganya..(persepsi saya lho).. menceritakan pada saya bahwa ketika SMP dia pernah merasakan heroin, exctacy, pernah sakau, mabuk, hingga akhirnya masuk rumah sakit dan didiagnosis …yang intinya hampir sebagian besar organ tubuhnya rusak. Akibatnya sekarang dia sering merasakan kesakitan yang tak tertahankan dan tergantung sekali dengan obat dari dokter untuk menahan rasa sakitnya itu. Hebatnya lagi kedua orang tuanya tidak mengetahui penderitaan anak tersebut.
Sepintas seperti cerita di sinetron, cerita anak orang kaya yang broken home dan kesepian. Kesepian mungkin ya, orang kaya dan broken home...bukan. Justru anak ini, anak seorang tukang becak dengan seorang ibu rumah tangga. Jauuuuuuh sekali dari kaya raya.

Ada lagi seorang anak perempuan, yang punya pacar om-om kaya, ketika ditanya ayahnya kenapa si mau sama om-om, jawabannya ”soalnya ayah gak pernah ngasih aku uang”...

Anak yang lain, yang ini dari keluarga ideal, walau bukan anak orang kaya, ayah ibunya sangat perhatian dan terus memberi dorongan untuk perkembangan anaknya. Namun anak tersebut sangat labil, kadang sms ”horeee, hari ini aku semangat sekali, ntahlah tiba-tiba aku jadi bersemangat untuk belajar, terimakasih ya bu..”, tapi kira-kira dua jam kemudian ”bu, aku berfikir kalo begini terus kapan aku sukses, aku masih takut dengan tantangan bu??”...lalu beberapa menit kemudian ”apakah aku sudah terlambat?”...”menurut ibu diantara anak kelas 3 yang frustasi, males dan merasa terpojokkan apakah hanya aku doang??”

Dan masih banyak yang lain, dan menurut saya, walau mungkin mesti ada penelitian perilaku remaja secara khusus, namun yang terjadi pada anak-anak saya adalah fenomena kebanyakan remaja di Indonesia. Soalnya yang miskin masih lebih banyak dari yang kaya. Yang pingin kayak remaja sinetron di TV juga banyak. Yang bingung mesti gimana dengan perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan mereka juga banyak.

[repost] Hidup Tidak Linier

by Lea Kesuma on Sunday, June 7, 2009 at 10:23pm

http://inibukucahya.blogspot.com/
Kebetulan sekali, kota kecil saya belum lama ini kedatangan dua orang yang sangat menginspirasi saya Bob Sadino-dengan kecuekannya berbicara tentang enterpreneurship dan Rhenald Kasali dengan bisnis in crisis-nya

Saya akan mengulas semua tentang om Bob yang saya terima sekitar 3 jam pagi itu.

Sebelum om Bob ini mulai bicara, kami semua diperintah untuk memindahkan seluruh isi otak kami ke dengkul, sehingga yang ada di dalam otak masih orisinal
Karena menurut dia, buku yang dipelajari para peserta yang 75% mahasiswa itu, berdasar hal yang sudah basi, yang seharusnya sudah masuk tong sampah, jika mereka masih saja memakai isi buku-buku itu berarti otak mereka penuh dengan sampah, apa lagi otak dosen-dosen ini..begitu kata om Bob yang disertai gerrr tawa para peserta.

Maksud Bob sebenarnya adalah, supaya mahasiswa2 itu selalu mengkritisi teori-teori yang mereka peroleh di bangku kuliah, nggak tinggal telan saja dan hipotesa yang diajukan juga nggak mesti harus selalu dibuat "terbukti" (baca -Karya tulis, Penelitian, Skripsi, Thesis, or Whatever..hanya untuk Ijasah, Gelar dan Kenaikan Pangkat?, http://leakesuma.multiply.com/journal/item/11/), karena apapun bisa terjadi.
Apa yang terjadi di lapangan kebanyakan menyimpang jauh dari apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah, apa lagi tentang teori-teori ekonomi yang wajib dipelajari di bangku kuliah, kalo kita nggak update terus perkembangan perekonomian mikro dan makro setiap saat, kita semua bakal ketinggalan.

Ketika di tanya, gimana om Bob bisa sukses sampai sekarang, om Bob malah bertanya kepada mahasiswi itu apa arti sukses, karena om Bob sendiri nggak tau apa artinya sukses.

Persepsi saya dari kata-kata om Bob itu, definisi sukses setiap orang itu berbeda-beda, saya merasa sukses jika, bisa melakukan hal yang berguna bagi orang banyak, pasti definisi sukses menurut anda juga berbeda kan?

[repost} Keresahan ini....

by Lea Kesuma on Thursday, July 2, 2009 at 8:34am

Dari seberang jalan, saya melihat anak-anak bergembira ria di sebuah taman, baju putih mereka penuh warna, merah, orange, hijau, biru, dan ketika mereka melihat saya melintas. "Ibuuu...sambil melambaikan tangan mereka dari jauh", dan mereka pun berlari dari taman, menyeberang jalan menghampiri saya, dan kamipun berpelukan. "Ibu terimakasih kami lulus", berebut mereka mencium tangan saya dan kami berpelukan lagi. Badan kecil saya tenggelam dalam pelukan mereka.

Di sekolah saya, ada sekitar 18 anak dari 220 murid klas 3 tidak lulus UN, saya tanyakan pada mereka, teman-teman yang tidak lulus. Tadi langsung pulang bu, kasihan bu.., padahal jawaban kami sama lho..-bukan rahasia umum lagi, ketika ujian berlangsung, hampir 99% anak-anak saling memberikan jawaban, ketika masa ujian, mereka sering sms saya dan cerita tentang pengawas yang galak, tentang teman mereka yang nangis, yang pingsan, dan tentang keberhasilan mereka menyebarkan kunci jawaban ke setiap ruangan-
Fenomena ini sering membuat saya geli, membayangkan seru nya mereka, berjibaku mencari jawaban benar vs pengawas yang galak.

Kelulusan itu, saat ini yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri mereka, kepalsuan yang tidak mereka sadari ini yang membuat mereka bahagia.

Anak-anakku..apapun yang terjadi, kalian adalah yang terbaik. Hari ini adalah titik awal. Di depan kalian masih ada jalan panjang yang mesti di lalui dengan sabar dan tawakkal, pandai-pandailah memaknai setiap kejadian atas langkah dan tindakan yang kalian ambil. Banyak-banyaklah belajar dari universitas besar kehidupan ini, sehingga lulus dengan khusnul khotimah.

http://leakesuma.multiply.com/journal/item/31/Keresahan_ini...

[repost] Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif..

by Lea Kesuma on Wednesday, March 10, 2010 at 3:08pm

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti seminar nasional mengenai sistem pendidikan yang membelenggu anak kreatif, saya juga mendapatkan pin yang menarik, dalam pin tersebut digambarkan dua buah tangan seorang anak yang memegang jeruji ruang penjara. *pin tersebut langsung saya sematkan di tas ransel yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi*..

Pembicara dari seminar ini adalah para pelaku pendidikan yang berbeda kalau boleh dibilang ”nyleneh’ dan ”gila”

Pembicara pertama ibu Diana, beliau pembina di SKB sebuah institusi informal milik pemerintah, yang mendidik anak-anak dari 0 tahun sampai para orang tua buta aksara.
Disini beliau banyak berbicara mengenai pendidikan anak usia dini, intinya pelajaran yang disampaikan semestinya student center bukan teacher center, sistem pendidikan kita terbukti kurang memberikan peluang anak-anak didik menjadi forever learner, prestasi bukan angka, namun bagaimana anak mendapatkan suatu makna dari pembelajarannya tanpa tekanan dari orang dewasa di sekitarnya, tidak possesif dan lebih memberi kebebasan kepada anak.

Pembicara kedua adalah seorang kepala sekolah yang inspiratif, bapak Hengky Kusworo, beliau memiliki sekolah dari pre-school hingga SMA dengan jumlah peserta didik kurang lebih 3000 anak. Sekolah ini memiliki lapangan bola standar internasional dan fasilitas-fasilitas yang lengkap. Yang menarik adalah, sekolah Terang Bangsa ini menerima murid-murid dari segala latar belakang, sepertinya sekolah ini ingin mematahkan pendapat ”orang miskin dilarang sekolah”, karena biasanya sekolah ”bagus” pasti mahal. Beliau memberikan beasiswa bahkan bebas SPP dan pungutan apapun bagi anak-anak jalanan, pemulung, pengemis dan lain sebagainya.
Yang membuat saya amaze adalah, bagaimana beliau dapat mencampur dengan indah murid kaya yang kalau sekolah naik Harrier dan murid miskin yang ibunya sehabis mengantar anaknya sekolah, memulung sampah di sekolah itu.
Mereka bermain bersama, belajar bersama dengan indah tanpa rasa iri dan minder, semua sejajar, semua memiliki hak yang sama dan saling menyayangi.
Sekolah ini juga menerima anak cacat, down sindrom dan autis. Prinsipnya semua manusia sungguh-sungguh memiliki hak yang sama untuk belajar.
Statement beliau terakhir, lakukan semua dengan sepenuh hati dan tulus, maka segala kemudahan akan mengikuti kita.

Nah pembicara ketiga ini, Bapak Bahruddin, pendiri komunitas belajar Qaryah Thayyibah.
Ada yang menarik, yang baru menurut saya, bahwa guru hanya memfasilitasi dan mendukung potensi yang ada dalam diri anak. Guru DILARANG mengarah-arahkan dan memberi bimbingan, sebaiknya guru hanya menyampaikan gagasan atas suatu masalah, dan keputusan terakhir diserahkan pada anak, dan jika anak tersebut menolak gagasan guru, justru hal tersebut yang diharapkan.

Beliau mengambil kata-kata Romo Mangun – semua anak cerdas, semua anak memiliki keingintahuan, dalam diri anak sudah ada MAHAGURU, maka jangan bunuh MAHAGURU itu, wahai guru.

Anak tidak boleh dibentuk dan dicetak, jika demikian ini dilakukan berarti kita telah membunuh hak anak untuk berkembang, yang boleh dibentuk dan dicetak adalah batu bata hehe..

[repost] Liburan Panjang...

by Lea Kesuma on Friday, March 26, 2010 at 7:23am

Liburan panjang, karena nggak dapet jatah jaga UN. Membuat saya lebih leluasa untuk membuka buku-buku lama saya, Menjadi Manusia Pembelajar dan Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, keduanya karya Andrias Harefa.
Dari membaca dua buku tersebut, saya jadi terus melanjutkan untuk membaca buku yang lain, bukunya Pater Drost, Sekolah Itu Candu nya Roem dan Belajar Sejati Versus Kurikulum Nasional -Dedy Pradipto, buku terakhir adalah desertasi Dedy yang memuat analisa beliau tentang pandangan-pandangan Romo Mangun mengenai Belajar Sejati dan sekolah Mangunan.
Setelah membaca buku buku tersebut saya malah tambah stress dan prihatin. Apa lagi trus inget deschooling nya ivan illich dan pandangan Paulo freire tentang pendidikan.

Yang mereka semua katakan, nyata dan benar. Hasil dari sekolah dan sistem pendidikan konservatif juga bisa terlihat sekarang. Tawuran, korupsi, pelajar dan mahasiswa yang bunuh diri, pengangguran terselubung dimana-mana, bahkan terakhir saya baca jumlah lulusan sarjana menganggur meningkat 50%.

Mungkin perlu diperhatikan, Pidato Larry Ellison orang terkaya no 2 di dunia, yang saya ambil dari buku Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup-Andrias Harefa-,
“In fact, as I look out before me today, I don’t see a thousand future leaders in a thousand industries. I see a thousand losers.
Instead, I want to give hope to any underclassmen here today. I say to you, and I can’t stress this enough : LEAVE. Pack your things and your ideas and don’t comeback. Drop out. Start up. For I can tell you that a cap and gown will keep you down just as surely as these security guards dragging me off this stage are keeping me down…”

Pidato ini disampaikan pada upacara wisuda lulusan Universitas Yale sekitar bulan September tahun 2000, dan kata-kata tersebut ditujukan untuk mahasiswa-mahasiswa yang masih kuliah disana. Untuk para wisudawan Larry mengatakan bahwa mereka semua losers, pecundang. Apa yang mereka harapkan dari kesarjanaan mereka, gaji $200.000 setahun?. Larry Elison dan beberapa orang terkaya di dunia seperti Bill Gates, Paul Allen dan Michael Dell tidak pernah selesai kuliah. Mereka mencuri start, menekuni usaha mereka sejak dini, sehingga ketika teman-teman mereka menenteng ijasah melamar kemana-mana, mereka bahkan sudah dapat menggaji lulusan-lulusan sarjana tersebut.

[repost] Sekolahya Manusia-Munif Chatib...

by Lea Kesuma on Thursday, August 12, 2010 at 8:09pm
Ketika denger judulnya seorang teman nyeletuk, apa lagi itu, masak sekolahnya manusia?
Karena kita tidak menyadari selama ini sekolah Indonesia pada umumnya adalah sekolah robot, yang memegang remote control adalah guru dan orang tua.
Anak dianggap botol atau ember kosong yang gak punya potensi dan kemampuan, dan orang tua dan gurulah yang wajib mengisi botol dan ember kosong tersebut. Kasihan kan anak-anak.
Di bukunya ini Munif Chatib membuktikan bahwa pernyataan itu SALAH. Munif membuktikan bahwa semua anak memiliki potensi masing-masing, dan potensi itu bisa dilejitkan.
Jadi inget tulisan Hernowo tentang sekolah hutan binatang.
"Terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu memutuskan untuk menciptakan sebuah sekolah memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali."
"Anehnya mereka tidak menemukan kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti kurikulum yang sama. Jadi setiap murid harus ikut mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali."
"Kita tentu tahu karakter rusa yang ahli berlari, nah suatu saat sang rusa hampir tenggelam saat mengikuti kelas (mata pelajaran) berenang. Dan pengalaman mengikuti kelas berenang sangat membuat batinnya terguncang, dia merasa seperti tidak punya potensi lagi. Lama-kelamaan, karena sibuk mengurusi pelajaran berenang, dan harus mengikuti pelajaran tambahan berenang, si rusa pun tidak lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Karena dia sudah mulai jarang melatih keahlian alaminya."
"Kemudian ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah binatang tersebut. Kita juga tentu tahu karakter burung elang. Yang sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si elang tidak mampu menjalani tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya, ia juga harus mengikuti les tambahan menggali. Les itu banyak menyita waktunya, sehingga ia melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya."
"Demikianlah kesulitan demi kesulitan melanda juga binatang-binatang lain, seperti bebek, burung pipit, ular dll. Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahliannnya mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat-sifat asli mereka."
(Hernowo dan Nurdin, 2004)

Imajinasiku Tentang Sebuah Sekolah

postingan lama sebagai pengingat diri untuk tetap di jalur dan tujuan awal.. Semangaatt!!..
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/19/imajinasiku-tentang-sebuah-sekolah/

para calon ustadz, calon pengusaha, atlit olimpiade, calon pembalap, calon pemimpin, calon jendral, calon dokter, calon ekonom....Amin..:)
Tempat dimana siapapun dapat terlibat didalamnya tanpa ada “seleksi” perbedaan status kaya miskin, dan pintar bodoh

Tempat untuk anak-anak bermain sepuas mereka, bermain bersama ulat, kupu-kupu, ayam, bebek, semut, mengamati bunga, daun, buah-buahan, menanam tanaman, memanjat pohon, berenang di mata air, hujan-hujanan, mencari ikan dan menikmati ikan hasil perburuannya, tanpa khawatir kotor, tanpa kuatir sakit dan menikmati semuanya sampai puas, tertawa lepas bahagia tanpa tekanan.

Tempat untuk remaja mengekspresikan semua potensi yang ada di dalam dirinya hingga mereka menemukan konsep diri mereka dan melakukan semuanya dengan sepenuh hati, jujur dan tepat.
Bermusik, melukis, berkuda, sepak bola, volley, balap motor, mobil, modifikasi motor atau mobil, menulis, menjahit, membaca, bersenda gurau, atau merenung– bebas mencurahkan segala idenya tanpa campur tangan orang dewasa disekitar mereka—sehingga kita akan mendengar dan melihat ide-ide brillian mereka terwujud dengan sempurna dan menakjubkan.
Tempat pararemaja itu melalui step kehidupannya sebagai diri mereka sendiri—

Anak-anak itu, para remaja itu tumbuh alami, indah, dan menyenangkan…
Kita orang dewasa di sekitarnya ADA hanya jika dibutuhkan, kita hanya wajib memberi saran tanpa mempengaruhi, keputusan akhir tetap ada pada mereka.

*Asal kata sekolah adalah scholae–tempat untuk bersenang-senang–

Senin, 19 Desember 2011

[KLIPING] Perbaiki Sekolah - Sindo 8 Desember 2011

by Rhenald Kasali on Thursday, December 8, 2011 at 8:04am

netsains.com
Hari Rabu kemarin saya diminta berbicara di hadapan para guru SMA-SMP Kanisius tentang apa yang harus disikapi untuk membentuk generasi baru. Sebelumnya, saya juga sudah berbicara hal yang sama di SMA Al Izhar, High Scope, dan SMAN 1 Gianyar. Apa yang menjadi keprihatinan orang tua dan guru?

Pertama, mereka ingin mengklarifikasi benarkah pendidikan di Indonesia adalah yang terberat di dunia?. Kedua mereka ingin mengetahui mengapa anak-anak kita hanya berhenti sampai di level juara Olimpiade matematika (dan fisika) saja? Dan Ketiga, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pengajaran dan tingkat keberhasilan anak didik.

Terberat – tersarat
Meski tidak tahu apakah kita masuk kategori “ter”, saya harus menyampaikan bahwa pendidikan dasar dan menengah kita memang berat. Saking beratnya, seorang ketua yayasan pada sebuah pendidikan swasta sempat memeriksa isi tas anak-anak TK dan SD Kelas 1 di Jakarta dan ia mengatakan rata-rata seorang bocah kecil membawa beban berupa buku dan alat tulis seberat 2,5 Kilogram.

Selain jumlah pelajaran yang diwajibkan Undang-undang Sisdiknas terlalu banyak (16-20), buku-buku pelajaran yang harus dibeli orang tua dari sekolah rata-rata juga terlalu tebal, dengan kualitas isi yang masih perlu dipertanyakan. Pengalaman saya sebagai orang tua yang membimbing anak sendiri dalam belajar menemukan rumus-rumus yang tidak konsisten dan membingungkan antara halaman yang satu dengan halaman-halaman berikutnya pada buku yang sama. Sudah begitu, sebagian besar guru ternyata mengaku kesulitan memilih rumus mana yang benar? Jadi rumus yang benar dan salah seringkali sama-sama diajarkan.

Tak banyak guru yang menyadari bahwa 80% isi sebuah buku, intinya hanya berada pada 20% dari jumlah halamannya. Akibat ketidaktahuan ini  jelas fatal, seluruh isi buku dijejalkan pada kepala anak didik. Meski dari 16-20 mata pelajaran yang diajarkan di SMU (seorang tua  murid SMK menyebutkan anaknya diberi 28 mata pelajaran) hanya 6 mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional, kesepuluh hingga 14 guru pada mata pelajaran lainnya berebut masuk kedalam otak anak-anak dengan cara yang sama. Mereka semua ingin mata ajarnya berperan sama kuatnya dengan mata pelajaran yang diuji secara nasional.

Lengkaplah sudah penderitaan anak-anak sekolah Indonesia. Semua guru menganggap pelajarannya penting. Sepenting itulah mereka bisa mmbuat anak tidak naik kelas hanya karena nilai mata pelajaran geografi dibawah 6, atau harus mengulang. Ada banyak guru yang beranggapan mengulang berarti bodoh, dan nilainya harus dibawah rata-rata murid lainnya. Kalau rata-ratanya 6, yang mengulang otomatis diberi nilai dibawah 6 tanpa diperiksa. Guru-guru kita masih beranggapan kalau murid ditekan maka anak-anak akan menjadi lebih respek, lebih rajin, atau lebih hebat. Padahal itu hanya mencerminkan ego-nya yang teramat besar dan dapat berakibat buruk bagi setiap anak-anak didik.
Mata pelajaran-mata pelajaran yang maaf, harus saya katakan dapat dibuat lebih relax dan fun, telah dirubah menjadi momok  yang menakutkan. Ia dijadikan setara dengan ilmu pasti yang sarat rumus dan padat. Ia berebut perhatian yang sama dengan mata pelajaran–mata pelajaran yang diuji secara nasional. Disajikan terlalu serius dan berakibat hilangnya esensi yang mau dicapai.

Untuk mengatasi hal ini saya menyarankan guru-guru pandai memilih esensi dari sebuah buku dan mulai membuat pelajaran-pelajaranya disampaikan dengan cara yang lebih fun dan menyenangkan.

Oh Raport oh Rangking...:(

carlaaudina.com
Saya agak kecewa terhadap bu guru dan pak guru. .karena hasil raport yg saya terima tdak pernah kongkrit,dn tdk pernah benar ktka d trima oleh murid,hal ini membuat saya berpikir bhwa usaha murid untk blajar tdak d hargai olh guru yg mberikan nilai asal2n. .
#mohon untuk kasus ini sgra di tndak lanjuti,karna kami pihak murid merasa d rugikan. 
pernyataan ini ditulis di grup sekolah dan di amini oleh banyak anak-anak yang lain, ketika saya minta contoh spesifik beberapa anak menjawab :
*      Nilainya gak bener...kaya orang yg tertib nilainya ngedrop...
*      saya ga pernah dpet nilai ulgn bhsa.arab kurang dr 8. . .tp di rapot saya rata2 y cuma 7.4. . .kaget bget saya lhat.y buk. .
*      Masa yg cip aja ada yg gak tntas nilainya prngkt 15,mei yg bgus prgkt 29
*      ‎.pny saya jg bu
.nilai PKn saya alhmdulillah gag prnh d bwah 8
.tp msok d raport nlai.ny 7 ?
*      Ranking saya juga buk. .lbh tgi dr pada yg rangking 12. .tp d rapot malah saya dpet rangk 20. .di marah.i hbis2an saya buk. .--____--
*      saya takut dgn masa dpan bu. .karna nilai qta skrang kan penentu lulus UAN. .walopun qta bsa lulus UAN,tp hasil yg qta dpat juga ga memuaskan karna rapot yg salah. .
wedi bget pokok.e aku buk. .   

jawaban saya saat itu..
hidup itu bergantungnya cuma sama Allah bukan sama angka raport picisan seperti itu---masa depanmu sebetulnya lebih ditentukan dengan attitude eh perilaku mu, sekarang ini orang cari kerja, yang dilihat pertama kali adalah perilakunya, jujur nggak, loyal nggak? sungguh2 nggak. BUKAN ANGKA RAPORT. Dokter, pengusaha, guru, bengkel, salon, pemilik rumah makan, segala profesi,  akan berhasil karena jujur dan  bersungguh-sungguh dalam bekerjanya--bukan angka raport lagi.
Masalah UN-- gak perlu kuatir n takut sama UN anak-anak baik seperti dirimu dan kalian semua asal bersungguh-sungguh pasti dikasih kemudahan JUST DO YOUR BEST LILAHITA'ALLA--UN PIECE OF CAKE..SEMANGAATT!!...(^.^)/  

ditengah keprihatinan saya seorang teman menulis :
Uraian-uraian kemarin adalah semacam sketsa tentang berbagai kemungkinan positif dan negatif dalam diri anak-anak. Prinsipnya, kita harus betul-betul mengenal hakikat anak sebagai manusia sebelum kita bisa menjalankan pendidikan yang efektif, karena jika tidak, kita akan membesarkan mereka sekedar memenuhi tuntutan pasar atau standar eksternal, padahal mungkin tuntutan dan standar itu bertentangan dengan kapasitas dan kebutuhan sejati anak-anak. Dalam proses mendidik, studi psikologis saja belum cukup – kita musti terjun lebih dalam lagi untuk berpikir sampai ke tataran filosofis. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 46-67 (16)

Menurut teman ini lagi
*      berpikir sampai tataran filosofis misalnya: tidak menerima begitu saja teori-teori dan mitos-mitos pendidikan, tapi berpikir sendiri secara kritis tentang kebenarannya. contoh: antara opsi sekolah formal atau HS, secara filosofis kita harus menjawab dulu tentang apa itu tujuan pendidikan
*      harus merumuskan standar sendiri. kalau kita tidak punya visi sendiri, seumur hidup kita hanya akan mengabdi kepada visi orang lain.

Saya kemudian browsing melihat bagaimana evaluasi di Finlandia sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, apakah mereka masih menekankan pada angka raport dan peringkat?
Ternyata tidak, siswa di Finland tidak lagi mengejar angka dan peringkat selama menjalani pendidikan wajib dasar 9 tahun, namun mengejar pemahaman dan penerapan ilmu yang diberikan sesuai dengan kurikulum pendidikan dasar nasional. Sistem peringkat (ranking), baik peringkat siswa maupun peringkat sekolah (sekolah favorit atau non-favorit), serta sistem evaluasi ujian nasional untuk kenaikan kelas di tiap jenjang pendidikan wajib dasar nasional 9 tahun dihapus. Pendidikan dasar difokuskan pada upaya pembentukan karakter dan kapasitas dari setiap murid.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan. 
http://ruangpikir.multiply.com/journal/item/92?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Pernyataan-pernyataan ini, membuat saya berpikir lagi, membuat strategi lagi, agar anak-anak (baca: murid-murid) saya tidak lagi dipusingkan dengan peringkat dan angka rapor, juga ketakutannya dengan masa depan karena angka rapor—esensi pendidikan yang sudah terberangus dan ternoda oleh angka dan peringkat ini mesti segera di perbaiki. Sudah tidak jamannya lagi menakut-nakuti mereka dengan angka rapor, anak-anak itu adalah anak-anak cerdas, pemahaman mendalam akan sesuatu sesuai kebutuhan adalah kuncinya. 
Semangaatt!!...(^.^)/..

Rabu, 14 Desember 2011

[KLIPING] Tak Ada Kedewasaan Instant

by Mohammad Fauzil Adhim on Wednesday, December 14, 2011 at 8:04pm
 
Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping.

Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan mencerna, memahami, memikirkan dan mengembangkan sebuah konsep. Hari ini, banyak orangtua yang bersibuk-sibuk menjadikan anaknya tampak hebat, tetapi lupa membangun pilar kehebatan itu sendiri.

Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.

Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter.
Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif. Paling jauh keterampilan sosial yang bernama sopan santun.

Sungguh, sopan santun sangat berbeda dengan karakter. Sebagai keterampilan, sopan santun merupakan bagian dari kecakapan sosial. Sementara karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekedar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri. Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jumat, 09 Desember 2011

[KLIPING] Dua jenis guru ---- guru kognitif dan guru kreatif

By. Rhenald Kasali


Guru-guru kreatif-LKIG LIPI 2009
Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.

Sebaliknya, guru kreatif lebih banyak tersenyum, namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga. Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral, kertas lipat, lidi, atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.

 Guru Kognitif

Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya. Dia berbicara panjang lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi. Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory. Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.

Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guru-guru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS), sangat patuh pada ”tupoksi”. Saya sering menyebut mereka sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan bab-bab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas, mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.

Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anak-anak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit. Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.

Saya sering menyebut anak-anak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi, bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.

SAYEMBARA NIKMATNYA MENULIS...\(^.^)/..


Kelanjutan dari proyek saya terdahulu http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/11/nikmatnya-membaca.html saya membuatnya dengan cakupan yang lebih luas yaitu anak-anak satu sekolahan, pengumuman dibawah ini saya tempel dan saya sebar dimana-mana beberapa hari yang lalu, hasil sementara Alhamdulillah sudah ada 15 tulisan yang masuk dari berbagai kategori, saya masih terus menunggu tulisan-tulisan karya mereka karena batas waktunya masih tanggal 31 Desember 2011--tulisan-tulisan anak-anak itu dapat disimak disini http://kemerdekaanmenulis.blogspot.com/ ikut beri dukungan buat mereka yaa

caranya : KLIK salah satu LUCU, MENARIK, atau KEREN, atau klik di JUDUL atau juga dapat memberi sedikit komentar, koreksi atau kritik pada setiap tulisan mereka, tulisan favorit dan terbanyak disimak dan dikomentari akan menjadi pertimbangan tersendiri

 

SAYEMBARA NIKMATNYA MENULIS..\(^.^)/

Mumpung liburaaannn…


untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis, diselenggarakan sayembara Nikmatnya Menulis, diselenggarakan oleh Klub Menulis Seuta

Kategori Lomba :

1.    Membuat review dari buku yang paling disukai (lihat contoh diblog : http://untukanakbangsa.blogspot.com cari judul “Nikmatnya membaca..\(^.^)/..”)

2.    Menulis cerita bebas (novel, cerpen, puisi, komik, artikel, skrip drama dll)

3.    Menulis pengalaman buruk membaca


Ketentuan Lomba:
1. Peserta Lomba seluruh siswa MAN Salatiga dari kelas X hingga kelas XII
2. Untuk kategori 1 dan 3, tulisan hendaknya jelas, dan spesifik, jika bagus, terus bagusnya dimana, kalau seru-serunya dimana-, dst.
3. Semua tulisan di tulis di Note/Catatan Facebook masing-masing dan wajib menandai atau tag Lea Kesuma (Search: leakanzen@yahoo.com kemudian add); di note/catatan tulis juga nama lengkap dan kelas
4. Jika tidak memiliki account Facebook, tulisan dapat ditulis di selembar kertas folio bergaris, dikumpulkan di sekretariat Klub Menulis Seuta Jl. Kauman No. 3 Salatiga
5.  Setiap peserta boleh mengirim tulisan sebanyak-banyaknya, baik kategori 1, 2 dan 3

6.  Hadiah berupa trophy, uang tunai dan buku dari sponsor
8.  Batas akhir pengiriman adalah 31 Desember 2011
Catatan : Sayembara ini sudah dilakukan bulan lalu dan pemenangnya adalah Fauzul Abadi kelas XI IS 3 dan Shofatun Jamilah kelas XII IS 2—(pesertanya khusus kelas XII IS 2 dan XI IS 3), karena hasilnya oke maka kegiatan dilanjutkan dengan skope yang lebih besar (satu sekolahan)
SO TAKE YOUR CHANCE AND DO YOUR BEST SEMANGAATTT!!..(^.^)/..

Selasa, 06 Desember 2011

[KLIPING] Selamat Datang Kurikulum 2015

Oleh Rahadian P. Paramita
Sumber : http://pendidikan-alternatif.blogspot.com/2011/04/selamat-datang-kurikulum-2015.html

Pic. source : brighthub.com

Perubahan kurikulum pendidikan nasional? Bukan. Judul proyeknya adalah Penataan Ulang Kurikulum. Kurikulum baru ini diharapkan mulai diterapkan secara nasional mulai tahun 2015. Jadi, Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) yang selama ini berlaku, akan ditata ulang. Mungkin karena dianggap masih berantakan.

Landasan Kebijakan Penataan Ulang Kurikulum

  • RPJMN 2010-2014;
Enam substansi inti program aksi bidang pendidikan yang harus dicapai pemerintah berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Keenam substansi ini meliputi 1) Akses Pendidikan Dasar dan Menengah yang harus meningkat, 2) Akses Pendidikan Tinggi yang juga harus meningkat, 3) Penerapan metodologi pendidikan yang menyeluruh (holistik), 4) Peningkatan pemeran kunci dalam Pengelolaan pendidikan dan kependidikan, serta 5) penataan ulang kurikulum yang dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah, dan sekolah, dan 6) Peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.
  • Peraturan lain yang terkait;
UU No. 8/2005 tentang Penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 3/2005 tentang Perubahan atas UU. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah (Pembagian wewenang dan sektornya). Kepala Dinas Provinsi dan Kab/Kota seharusnya menjalankan fungsinya secara optimal untuk mengarahkan kurikulum sesuai kebutuhan di tingkat lokal.
  • Renstra Kemendiknas 2010-2014;
Penerapan metodologi pendidikan Akhlak Mulia dan Karakter Bangsa, dan Pengembangan metodologi pendidikan yang membangun manusia berjiwa Kreatif, Inovatif, dan Sportif, dan Wirausaha. Ini adalah gagasan yang dilandasi oleh Instruksi Presiden, yang juga sudah diluncurkan panduannya.
Alur Pikir Penataan Kurikulum


Seperti yang bisa Anda lihat pada gambar di atas, penataan kurikulum maunya mencakup tiga hal,


(1) Penguatan Pelaksanaan KTSP; Diharapkan memperkuat metodologi pembelajaran yang mengaktifkan dan mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan, pendidikan budaya dan karakter bangsa, dan pendidikan ekonomi kreatif. Pendidikan kewirausahaan dan ekonomi kreatif, artinya ke depan kurikulum kita akan menghasilkan lulusan pendidikan menengah yang cakap untuk mandiri, mengembangkan usaha sendiri tanpa tergantung pada dunia industri. Pendidikan budaya dan karakter bangsa, diharapkan manusia Indonesia kembali berbudi pekerti yang luhur, berbudaya, dan memiliki karakter kebangsaan yang tangguh.


(2) Pengkajian Materi KTSP;
Pemetaan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi serta kualifikasi kemampuan lulusan (PAUD, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SMK, dan PNF). Ruang lingkup materi yang selama ini tercantum dalam Standar Isi dan Standar Kelulusan akan ditinjau kembali, ditata ulang agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.


3) Pengelolaan Kurikulum Sekolah;
Bahan usulan/masukan yang dapat digunakan untuk menyempurnakan UU Sisdiknas saat ini. Selama ini padahal KTSP sudah berbasis kebutuhan lokal, tetapi karena implementasi Cakupan Materi KTSP tidak tepat, maka yang terjadi masih penyeragaman kurikulum. Ke depan, benar-benar akan ditentukan oleh maisng-masing satuan pendidikan.

Sabtu, 03 Desember 2011

Nikmatnya Membaca...\(^.^)/..

Sebulan yang lalu saya minta anak-anak (level SMA klas 3 dan kelas 2), untuk membaca buku yang mereka sukai, saya bilang ini tugas penting dari saya.(saya tidak pernah memberi PR atau tugas di rumah, jadi mereka merasa "gak biasanya").
tugasnya adalah membaca bebas buku apa saja termasuk komik pokoknya yang mereka sukai, kemudian setiap selesai baca buku, saya minta mereka untuk menuliskan perasaan mereka di note di FB dan wajib tag saya. Rentang waktu sampai akhir november sebelum tes akhir semester, yang paling banyak baca nanti ada hadiah dari saya, yang menarik mereka tidak mau saya menyebutkan hadiahnya apa, ya sudah surprise saja...

 beberapa hari kemudian saya menemukan tulisan di wall saya, mengenai buku-buku yang mereka baca, berikut beberapa anak yang menuliskan komentar mereka mengenai buku kesukaan mereka..*sebelumnya mesti sabar ya bacanya hehe


Buk saya sudah baca
judul : BP20-ketika jemari ku menari
kesan : dapat mengetahui semua profil bambang pamungkas dari kecil hingga besar.
Lea Kesuma menurutmu apa saja yang bikin kamu suka sama BP
November 6 at 1:08pm · Like
Handan Ardiyanto Prose menuju sukses yang di lakukan buk
November 6 at 1:22pm · Like
Lea Kesuma apa aja prosesnya?
November 6 at 1:58pm · Like
Handan Ardiyanto Ya dia kalau libur latihan sering nambah latihan sendiri
jadi melatih apa kekurangan dia
November 6 at 2:44pm · Like
Lea Kesuma apa kekurang BP
November 6 at 3:04pm · Like
Handan Ardiyanto Kaki nya panjang sebelah
November 6 at 7:19pm · Like
Lea Kesuma kalau panjang sebelah kesulitannya dimana? dan bagaimana dia mensiasatinya
November 6 at 7:23pm · Like
Handan Ardiyanto Di tidak menghiraukan kalo kakinya panjang sebelah dia menutupi kelemahanya dengan kelebihan yang dia miliki
kelebihanya adalah jumping yang sngat tinggi
November 6 at 7:27pm · Like
Lea Kesuma menurut mu BP orangnya gimana
November 6 at 7:27pm · Like
 
Judul buku : jalan cinta para pejuang
(Salim A. Fillah)
di jalan cinta para pejuang kita slalu menjg pandangan karena sebg!An hak kita dan yg lain adalh milk syaithan.Dan menjga pendngaran karena telinga sering kali membntk byang2 di celah otak.Menjga indera pembau krna syahwat dtang tanpa mengtk pntu.Dan kulit jg dr.Snthan2 yg tak dperknankan krna knanganya slt dlpakan.SepRTI sabda dlm redaksi imam ath thabrani dan al baihaqi jauh lbh baik drpd menynth kulit yg tak halal bg kita .

Biyin Thewhatshobir
judul buku : PULANG
nama pengarang :arpad goncz

awal cerita:
Dia masih merasa kehabisan nafas setelah naik tangga sampai ke lantai ketiga dan tidak inggi mmbuyian bel sebelum nafasnya pulih. lewat kaca pintu depan yg agak tembus pandang terlihat jelaz yala cahaya dari dalam
"pasti dia d rumah. lampu d dalam menyala ."dilihatnya tanaman hijau kusam dsudut koridor selaps debu menyelimuti tanaman itu .

akhir cerita
Pada malam hari,waktu hujan deres, wanit itu berkata " saya harus pergi ke menterian . saya tidak tahu pukul berapa akan kembali".
wanita tua yg kecil dan bulat itu mangangguk tak bersuara.
berangkatlah dia ,dan hingga dia menutup pintu di belakangnya , dia merasa pandangan mata sekretaris itu terus mengikutinya.
Dia ketahuan. dan d penjara.
akhirnya setelah beberapa bulan,kekuasaan itu d pegang oleh wanita muda (swedia)
.inti ceritanya adalah memperebutkan suatu kekuasàn. 
Unlike · · See Friendship · November 1 at 10:15a
You and AwwaLiianaa Anata Owarimasu like this 
 Lea Kesuma tapi aku gak nangkep ceritanya, kok kayak yang biasa ditulis di belakang buku ya..hehe..:) November 2 at 7:47pm · Like
Biyin Thewhatshobir La.Teruz.Gimana.bU?
November 6 at 1:30am · Like
Lea Kesuma wkwkwkwk---kesanmu aja deh abis baca cerita itu gimana rasanya
November 6 at 8:55pm · Like
Biyin Thewhatshobir Ya.biza, memetik. Hikmanya?
.misalya, janganlah kaw.berbuat curang hanya demi Yang kita ingikan
November 7 at 6:59am · Like
Lea Kesuma nyeritain tentang apa sih bukunya...
November 7 at 5:17pm · Like


buk nie kisah yg di karang oleh M.FHAZHA kisah nie dibuat berdasar kan kehidupan si pengarang
judul dari kisah ini yaitu SEORANG ANAK YG MERINDUKAN KASIH SAYANG KE2 ORTU NYA

awal mulanya ketika berusia genap 1th dia di tinggal kedua ortu nya keluar negeri untuk mencari nafkah bwat anaknya , dia pun dititipkan kpd kakek nenek nya , saat dia berusia genap 11th kedua ortunya itu pun pulang , dg rindunya anaknya itu menyambut dg gembira dan suka cita atas kepulangan kedua ortunya. . . . ,:)
AKHIRNYA. . . . ,setelah dia beranjak dewasa dia menjadi miliyader c0z dia memiliki DISTRO yg mpy cabang di berbagai negara besar coz dia ingin memasarkan product dalam negeri kita yaitu TANAH AIR kita INDONESIA , biarpun begitu dia pun baik hati , tidak s0mb0ng. . . . ,
menurut saya pribadi kisah nie bgus buanget cz mengajar kan bahwa hidup tu harus TETAP SEMANGAT menghadapi semua ini :)
Lea Kesuma top fauzhul..tak tunggu kisah-kisah yang lain...Semangaaatt!!...(^.^)/..
October 29 at 7:34pm · Like
Fhauzhull Bukhandt Phechundhank oookkkeee buk. . . . ,(^.^)>. . . ,
October 29 at 7:57pm · Like
Soleh Rezpector Buk inie yang ngarang fauzul sendiri deng buk,
ini pengalaman hidupnya fhauzul,
nama pengarangya sok2'an diplesetin jdi M.FAZHA,
pdagal itu M. FAuzul Abadi,
October 31 at 7:37am · Like
Soleh Rezpector Buk cerita inie kisahnya fhauzul,
tapi alur ceritanya dipleset2in dikit.
October 31 at 7:40am · Like
Fhauzhull Bukhandt Phechundhank tau aja kamu
tp kan aq generasi muda yg kreatif n bisa membuat kisah yg berbobot gak seperti loe :)
October 31 at 4:35pm · Like
November 1 at 6:19pm · Like
Lea Kesuma ya gak papa kan berarti fauzhul pinter nulis cerita..., siapa tahu jadi saingan JK Rowling.. tak tunggu cerita-cerita yang lain zul...Semangatt!!..(^.^)/..
November 3 at 10:32am · Like
Fhauzhull Bukhandt Phechundhank Oke buk siapht (^_^)>. . .hehehe 


Seminar yang menyenangkan...(^.^)/..(bag 2)

*Ternyata nggak tahan saya menulis nanti-nanti soalnya mumpung masih anget di kepala hehe

Pak Alex moderator yang baik hati-bikin saya tambah pede :)
Setelah rehat sholat jum'at tibalah giliran kami secara panel tampil di depan untuk menyajikan karya penelitian tindakan kelas yang pernah kami lakukan di depan para mahasiswa Pendidikan Ekonomi. By the way, oke lho idenya, jadi mahasiswa diharapkan tahu benar apa yang akan mereka hadapi ketika mereka terjun langsung di sekolah.
Ada 4 penyaji, Drs.Sutikno, M.Pd, Dra. Yuliati Eko Atmojo, M.Pd, Nining Maryaningsih, S.Pd dan saya, sebenarnya kami nggak janjian namun ternyata sebagian besar karya kami membahas hal yang sama tentang pembelajaran akuntansi, menurut saya ini membuktikan bahwa kesulitan dan masalah yang terjadi di kelas sebagian besar karena akuntansi, dan kami berusaha merubah mind set anak-anak bahwa akuntansi itu ternyata mudah dan menyenangkan
Pak Sutikno menggunakan metode Jigsaw untuk menjelaskan Jurnal Khusus, Ibu Yuli Eko menggunakan metode Gallery Accounting ciptaannya untuk menjelaskan siklus akuntansi perusahaan jasa, Ibu Nining yang menciptakan teknik baru P4DP3 untuk menjelaskan materi komunikasi bisnis, dan saya sajikan metode jelajah pasar dan accounting game untuk menjelaskan transaksi-transaksi akuntansi perusahaan dagang bisa di donlot disini http://www.docstoc.com/docs/document-preview.aspx?doc_id=58226196.
*aduh saya kok lupa ya minta karya beliau-beliau siapa tahu boleh di share disini

yang menarik, sekali lagi adalah pertanyaan-pertanyaan mahasiswa dan juga dosen, diantaranya;

1. Apa sih menariknya PTK?

2. Apa makna melayani bagi anda semua (kami berempat)?
3. Ide-ide inovasi pembelajaran dasarnya dari mana (pertanyaan ini ditujukan pada saya)
4. Sebenarnya mau dibawa kemana pembelajaran akuntansi ini

Ssst PTK nggak menarik kok hehe, yang menarik adalah ketika kita melakukannya di dalam kelas, (anggap saja ini tambahan jawaban saya tadi ya..). Sesungguhnya pada awalnya saya tidak pernah berpikir catatan-catatan saya tentang pembelajaran yang saya lakukan di kelas selama ini sejak tahun 2003 bisa ditulis menjadi classroom action research. Saya hanya merancangnya, jika tidak berhasil saya lakukan inovasi dan refleksi dari yang sudah saya lakukan, lesson plan saya buat se rinci mungkin, sehingga mempermudah saya ketika berada di kelas, seringnya saya terkejut dengan dampak dari rencana saya, banyak hal yang tak terduga seperti misalnya http://untukanakbangsa.blogspot.com/2010/11/belajar-itu-menyenangkan.html atau ini http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/10/my-dream.html yang ini juga http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/10/mereka-bosan-need-space-to-sit-and.html saya tidak pernah memperkirakan apa yang akan terjadi dengan metode pembelajaran yang saya terapkan, tepatnya saya sering terkejut dengan reaksi anak-anak baik yang positif maupun negatif. Nha catatan-catatan ini kemudian tinggal dibikin ilmiah, dikasih tujuan, dikasih landasan teori trus cerita deh di bab pembahasan, gampang kan.. sebetulnya judul penyajian saya seharusnya CMIIW hehe, karena selama ini saya belajar sendiri tidak ada pembimbing, yang membimbing saya adalah juri-juri saat saya presentasi untuk lomba karya ilmiah, jadi kalau presentasi kemarin saya sempat dikritik pak Bambang saya senang sekali..\(^.^)/..

Pertanyaan berikutnya ini favorit saya, "makna melayani"--pertama jadi guru itu mesti SUKA dulu CINTA dulu, kalau sudah suka pasti akan all out, sepenuh hati melayani, banyak belajar dan membaca dan harus open mind, sehingga ketika ada permasalahan yang terjadi dengan anak-anak kita bisa menghadapinya dengan bijak dan menyenangkan. Tidak usah berpikir tentang gaji, tentang sertifikasi, just do your best semua itu akan mengikuti dengan sendirinya. Sedikit cerita saya baru diangkat PNS 2005 ujian murni, sebelumnya saya guru kurang kerjaan, saya suka sekali membuat media pembelajaran, permainan di kelas, penelitian iseng untuk lihat kenapa anak-anak tidak suka belajar dan sempat jadi bahan tertawaan karena materi pelajaran saya agak terlambat selesai, dan dibilang guru baru sok rajin, tapi terus maju saja yang penting anak-anak nyaman belajar bersama saya. Tanpa diduga saya terdaftar sebagai calon penerima tunj. sertifikasi tahun 2007, walau nilai saya cuma 760 (harusnya untuk lulus 850) karena belum pernah ditugaskan untuk diklat, sehingga harus PLPG 2008, saya mulai terima januari 2009--tunjangan diterimakan tiap bulan--(saya PNS Kemenag) tanpa pungutan dan kolusi suerr. Saya juga suka iseng bikin-bikin metode "aneh-aneh" tapi alhamdulillah sering dapet duit karena itu--kalau menang kan hadiah duitnya lumayan hehe
Jadi cintai saja profesi ini, lakukan yang terbaik dan tulus karena Allah..:) let it flow yakin pasti banyak kejutan yang menyenangkan yang tidak pernah terpikirkan oleh kita *saya sudah buanyak bukti tentang ini


Ibu Mur, dosen akuntansi favorit mahasiswa PE..:)
Ide-ide inovasi pembelajaran yang saya buat dasarnya dari mana, (ini pertanyaan bu Mur ibu dosen..) Awalnya tentu karena ada masalah di kelas, masalah dengan anak-anak, masalah mensinkronkan materi pelajaran dengan kondisi anak-anak (yang umumnya terbebani dengan banyaknya tugas dan materi pelajaran)--saya ingin membuat semua materi pelajaran yang saya ajarkan serasa ringan dan mudah, sehingga mereka bisa nyaman belajar. Untuk ide Jelajah pasar muncul karena saya baca buku CTL Elaine B Johnson dan yang accounting game saya searching di internet kemudian saya buat dengan corel draw dengan melihat trend kesukaan anak-anak, saya gunakan gambar-gambar yang menarik seperti personil Avanged Sevenfold untuk cover uangnya dan lain-lain. Tujuan saya (menjawab nomer 4 sekalian) sebenarnya bagaimana menumbuhkan kesukaan belajar pada anak-anak sehingga mereka dapat menjadi pembelajar sejati (yang ini tadi lupa belum disampaikan) jadi bukan hanya akuntansi saja tapi bagaimana membuat mereka SUKA belajar, pernah saya tulis disini http://untukanakbangsa.blogspot.com/2010/12/school-is-choice.html

Sungguh pengalaman yang luar biasa, dosen-dosen yang ramah, menyenangkan, terbuka dan baik hati, sebagai guru "nggak normal" saya sangat terapresiasi dengan kesempatan ini terimakasih pak Bambang, terimakasih bu Yuli Eko (my soulmate), terimakasih bu Mur, terimakasih pak Alex, terimakasih pak Sutikno, terimakasih bu Nining (eh bu Maria kata pak Alex) dan mostly terimakasih adik adik mahasiswa FKIP PE UKSW yang smart dan kritis, KEEP DO YOUR BEST Semangaatt!!!...(^.^)/..